Dulu, hari-hari terasa berjalan tanpa arah yang pasti.
Waktu lebih banyak dihabiskan untuk berkumpul bersama teman-teman, sekadar mengisi waktu tanpa tujuan yang jelas. Dunia media hanya sebatas tontonan—melihat kasus di televisi, mengikuti berita viral di media sosial, tanpa pernah benar-benar memahami apa yang terjadi di baliknya.
Tak pernah terpikir, suatu hari akan berada di sisi yang berbeda.
Semua itu mulai berubah ketika sebuah kesempatan datang melalui sang paman. Dari situlah langkah awal terbuka untuk mengenal dunia media dengan lebih dekat, hingga akhirnya bergabung bersama DPD IWOI Karawang.
Di lingkungan baru itu, proses belajar dimulai dari nol.
Dari awal hingga sekarang, proses pembelajaran tidak berjalan sendiri. Ada sosok pembimbing dan rekan-rekan dalam satu lingkup yang terus saling membantu, mengarahkan, dan berbagi pengalaman.
Bukan hanya soal menulis.
Tetapi juga memahami bagaimana sebuah informasi disusun, bagaimana fakta harus disampaikan, dan bagaimana menjaga tanggung jawab sebagai bagian dari media.
Lingkungan pun perlahan mengubah banyak hal.
Dari yang sebelumnya terbiasa dengan pergaulan santai tanpa arah, kini mulai berada di tengah orang-orang yang memiliki pengalaman dan pengaruh. Obrolan tidak lagi sekadar candaan, tetapi juga diskusi tentang realita, peristiwa, dan sudut pandang yang lebih luas.
Dunia media yang dulu terasa jauh, kini menjadi bagian dari keseharian.
Belajar menulis menjadi tantangan tersendiri. Dari yang sebelumnya hanya melihat berita, kini harus menyusunnya. Dari yang hanya membaca judul, kini harus menciptakannya.
Tidak mudah, tetapi perlahan bisa.
Kesalahan demi kesalahan menjadi bagian dari proses belajar. Setiap tulisan yang dibuat menjadi langkah kecil menuju pemahaman yang lebih baik.
Kini, perubahan itu terasa nyata.
Dari yang dulu hanya menghabiskan waktu tanpa arah, kini mulai memiliki tujuan. Dari yang sebelumnya hanya menjadi penonton, kini sudah bisa menjadi bagian dari penyampai informasi.
Lebih dari itu, kebersamaan dalam satu lingkup di DPD IWOI Karawang menjadi kekuatan tersendiri. Saling membantu, saling mengingatkan, dan tumbuh bersama dalam proses yang sama.
Perjalanan ini mungkin dimulai dari ketidaktahuan.
Namun justru dari situlah, perubahan besar terjadi.
Dari yang dulu hanya melihat—kini sudah bisa menulis.
Dari yang dulu tidak paham—kini mulai mengerti.
Dan dari langkah kecil itu, hidup perlahan berubah menjadi lebih berarti.







