spot_img

ITB Dorong Penguatan Kelembagaan Petani Karawang untuk Hadapi Tantangan Perubahan Iklim

- Advertisement -spot_img

KARAWANG | KARAWANG EXPOSE.COM | Perubahan iklim, penurunan kualitas tanah, penggunaan input kimia yang intensif, serta ketidakpastian ketersediaan air membuat pengelolaan pertanian padi di Kabupaten Karawang semakin kompleks. Persoalan tersebut sulit diselesaikan oleh petani secara individual karena air, hama, gulma, dan kondisi lingkungan tidak mengenal batas kepemilikan lahan, sehingga kerja kolektif menjadi prasyarat utama.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Membangun Teknologi Kolektif: Penguatan Kapasitas Kelembagaan Petani Padi untuk Pengembangan Bersama Teknologi Pertanian Cerdas Iklim,” yang berlangsung secara bertahap dari bulan Februari hingga Juli 2026.

Tujuan utama dari kegiatan ini bukan semata untuk menerapkan teknologi untuk memecahkan masalah teknis, tapi membangun teknologi secara bersama yang dapat menguatkan semangat kerja kolektif.

- Advertisement -

Kegiatan dilaksanakan bersama Kelompok Tani Banyu Asih III dan Banyu Sakti I dan II di Kelurahan Plawad, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang. Program ini juga melibatkan PT Tani Bersama Estate (TBE), petugas penyuluh pertanian lapangan, serta Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat.

Ketua tim kegiatan, Dr. Angga Dwiartama, menjelaskan bahwa pengembangan teknologi pertanian tidak cukup dilakukan dengan membawa alat atau inovasi baru ke tengah masyarakat.

“Teknologi tidak akan menghasilkan perubahan dengan sendirinya. Teknologi perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat, dikembangkan bersama petani, dan didukung oleh kelembagaan yang memungkinkan mereka mengambil keputusan secara kolektif,” ujar Angga.

*Berawal dari persoalan irigasi*

Lahan sawah di Karawang berada dalam satu bentang pertanian yang luas, tetapi dikelola oleh banyak rumah tangga tani dalam petak-petak kecil. Sebagian besar keputusan mengenai penggunaan pupuk, pestisida, tenaga kerja, dan waktu budidaya dilakukan secara individual.

Padahal, berbagai persoalan pertanian saling terhubung. Gangguan aliran air pada satu bagian saluran dapat memengaruhi banyak petak sawah. Demikian pula, penanganan hama atau gulma pada satu lahan belum tentu efektif apabila tidak diikuti oleh petani di lahan sekitarnya.

Melalui kunjungan lapangan, pemetaan sosial, dan diskusi bersama petani, tim mengidentifikasi kondisi saluran irigasi sebagai salah satu persoalan yang perlu segera ditangani. Pembersihan dan perbaikan saluran kemudian dipilih sebagai pintu masuk untuk membangun kembali kebiasaan bekerja bersama.

Petani terlibat dalam menentukan bagian saluran yang perlu diprioritaskan, membagi pekerjaan, serta melaksanakan pembersihan secara gotong royong. Kegiatan tersebut tidak hanya memperbaiki aliran air, tetapi juga memperlihatkan secara langsung bahwa pengelolaan pertanian membutuhkan koordinasi yang melampaui batas petak individual.

“Setiap kali ada permasalahan air, kami duduk bersama dan bermusyawarah, untuk menentukan jadwal penggunaan air, serta waktu di mana kami bisa melaksanakan kerja bakti,” ujar Pak Sudrajat, wakil ketua kelompok tani Banyu Asih III.

*Penyuluh sebagai penghubung utama*

Petugas penyuluh pertanian lapangan memiliki peran sentral dalam kegiatan ini. Penyuluh tidak hanya memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga menjadi pemersatu, penggerak, dan penghubung antara kelompok tani dengan pemerintah, akademisi, dan penyedia teknologi.

Kedekatan penyuluh dengan petani memungkinkan proses pendampingan berlangsung secara lebih berkelanjutan. Penyuluh membantu tim memahami hubungan antarpelaku, sejarah kelompok tani, kebutuhan petani, serta berbagai kendala yang tidak selalu terlihat dalam pertemuan formal.

Peran tersebut menjadi semakin penting seiring berkembangnya teknologi pertanian berbasis data. Penggunaan kecerdasan artifisial, drone, sensor, dan sistem rekomendasi digital tetap membutuhkan aktor yang dapat menerjemahkan informasi teknis ke dalam kondisi lapangan serta mempertemukannya dengan pengetahuan dan pengalaman petani.

*Belajar bersama akademisi internasional*

Kegiatan ini turut menghadirkan dua akademisi dari Wageningen University & Research, Belanda. Keduanya berdiskusi bersama petani mengenai pertanian skala kecil, kelembagaan petani, perubahan agraria, serta hubungan antara teknologi dan kehidupan masyarakat pedesaan.

Pertemuan tersebut tidak dirancang sebagai kegiatan satu arah, ketika akademisi datang untuk mengajari petani. Sebaliknya, petani ditempatkan sebagai pelaku yang memiliki pengalaman, inovasi lokal, jejaring, dan pengetahuan mendalam mengenai lahan serta lingkungan pertaniannya.

“Pengabdian kepada masyarakat merupakan proses belajar dua arah. Sebagai akademisi, kami tidak boleh melihat petani sebagai kertas kosong. Mereka memiliki pengetahuan, pengalaman, daya tawar, dan inovasi yang perlu menjadi bagian dari pengembangan teknologi,” kata Angga.

Kegiatan ini juga membuka kesempatan bagi petani untuk berinteraksi dengan jejaring akademik yang lebih luas. Pertukaran tersebut diharapkan dapat memperkuat kepercayaan diri petani sekaligus membantu akademisi memahami bagaimana konsep dan teknologi berubah ketika diterapkan dalam kondisi pertanian yang nyata.

Menghubungkan teknologi dengan kelembagaan petani

PT Tani Bersama Estate, sebagai salah satu mitra kegiatan, selama ini mengembangkan pendekatan pertanian presisi dan regeneratif di Karawang. Pendekatannya menggabungkan penggunaan mikroorganisme lokal, pemantauan tanaman menggunakan drone dan kecerdasan artifisial, dukungan pembiayaan, serta jaminan akses pasar.

Namun, penerapan teknologi pada lahan petani yang kecil dan terfragmentasi membutuhkan koordinasi yang kuat. Data dari drone atau sensor dapat menjangkau satu kawasan, tetapi tindakan di lapangan tetap dilakukan oleh masing-masing petani. Karena itu, teknologi yang canggih tetap bergantung pada kemampuan petani untuk berdiskusi, belajar, dan mengambil keputusan bersama.

Kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa perbaikan saluran irigasi yang terlihat sederhana justru dapat menjadi fondasi sosial bagi pengembangan teknologi yang lebih kompleks. Pengalaman mengatur tenaga, waktu, sarana, dan tanggung jawab bersama dapat membantu kelompok tani mengelola inovasi lain pada masa mendatang.

Pengalaman di Karawang memperlihatkan bahwa transformasi pertanian tidak selalu dimulai dari teknologi yang paling canggih. Perubahan dapat berawal dari kemampuan petani untuk mengenali persoalan bersama, membangun kepercayaan, dan kembali bekerja sebagai sebuah kelompok.

spot_img

TRENDING

ARTIKEL POPULER

- Advertisement -spot_img
spot_img